Minggu, 30 Mei 2010

Perkenalkan

Assalamu alaikum

Perkenalkan

nama saya : Sabur Muis
TTL : Babaruna, 16 Mei 1970
Alamat : Muara Badak, Kutai kerta Negara
Pekerjaan : Guru / Kepala Sekolah
Unit : SD Negeri 023 Muara Badak
email saya : saburmuis@gmail.com


Pentingnya perpustakaan

Upaya untuk meningkatkan kecerdasan bangsa tidak harus selalu melalui jalur pendidikan formal saja, akan tetapi dapat juga melalui jalur pendidikan nonformal. Oleh karena itu, diperlukan adanya sarana komunikasi informasi ilmu pengetahuan untuk disampaikan kepada masyarakat yaitu perpustakaan.

Perpustakaan merupakan pusat terkumpulnya berbagai informasi dan ilmu pengetahuan baik yang berupa buku maupun bahan rekaman lainnya yang diorganisasikan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai perpustakaan. Pentingnya perpustakaan diorganisasikan dengan baik agar memudahkan pemakai dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya, karena bahan-bahan yang ada di perpustakaan itu sebenarnya adalah himpunan ilmu pengetahuan yang diperoleh umat manusia dari masa ke masa.

Tugas pokok perpustakaan adalah menyediakan, mengolah, memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya dan melayani masyarakat pengguna yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan. Untuk mendukung tugas pokok tersebut, perpustakaan melaksanakan fungsinya antara lain pendidikan, informatif, penelitian, dan rekreatif.

Jenis Perpustakaan

Setiap perpustakaan mempunyai tujuan, organisasi, anggota, dan kegiatan yang berlainan. Oleh karena adanya perbedaan dalam tujuan, organisasi induk, anggota dan kegiatannya maka timbullah berbagai jenis perpustakaan. Terdapat beberapa jenis perpustakaan, yaitu perpustakaan internasional, perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan perguruan tinggi.

Perpustakaan umum adalah lembaga layanan informasi dan bahan bacaan kepada masyarakat, oleh karena adanya masyarakat umum (yang tidak dibedakan lapisan, golongan, lapangan pekerjaan, dan lain-lain) yang akan menggunakan dan menjadi sasaran layanan perpustakaan. Perpustakaan umum memiliki tujuan utama yaitu memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik, menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat, murah bagi masyarakat, serta membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh instansi atau lembaga, baik pemerintah maupun swasta yang berfungsi sebagai pusat penelitian dan referensi serta sarana untuk memperlancar pelaksanaan tugas instansi atau lembaga yang bersangkutan. Perpustakaan khusus mempunyai tujuan untuk memberikan layanan informasi demi kepentingan dan kelancaran tugas lembaga induknya, karena perpustakaan khusus merupakan bagian dari suatu lembaga atau badan yang integral dari lembaga yang bersangkutan. Oleh karena itu, perpustakaan khusus mengkhususkan diri dalam mengumpulkan dan menyebarkan literatur bidang ilmu pengetahuan atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan saja.

Perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah, oleh sekolah, dan untuk kepentingan proses belajar mengajar di sekolah. Dalam pelayanannya, perpustakaan sekolah harus mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan siswa, ataupun pendidik dan dapat menunjang kurikulum baik yang berhubungan dengan kegiatan intrakurikuler maupun yang berhubungan dengan kegiatan ekstrakurikuler.

Sabtu, 22 Mei 2010

Nasib Pendidikan Kita

Beberapa minggu yang lalu saya dan rekan – rekan mengunjungi pameran di sebuah “sekolah plus” di daerah Jakarta Barat. Sekolah tersebut memang “plus” karena para siswanya diajarkan Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris sejak mereka kecil. Bahkan ketika saya mendengar beberapa guru yang bercakap – cakap mereka juga menggunakan Bahasa Inggris. Yang menyedihkan, keadaan ini kontras sekali dengan anak – anak dari golongan bawah maupun pedesaan. Kesempatan mereka belajar minim sekali.

Di Republik Indonesia tercinta ini sepertinya pendidikan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki uang. Mereka yang kaya bisa memberikan pendidikan yang baik bagi anak – anaknya dan menyekolahkan mereka di sekolah terbaik dan universitas terkemuka atau bahkan ke luar negeri. Sementara bagi mereka yang kurang beruntung hanya bisa belajar seadanya. Begitu anak – anak mereka dewasa, kesempatan memperoleh pekerjaan pun menjadi semakin menjadikan perbedaan itu mencolok. Hampir setiap lowongan yang ada di koran maupun internet tertulis “graduated from reputable university” dan “overseas preferable”. Dari sini kita bisa melihat mengapa jurang kemiskinan di Indonesia ini semakin melebar setiap tahunnya.

Omong kosong dengan beasiswa! Tidak semua beasiswa jatuh ke tangan orang yang benar – benar membutuhkan. Seringkali kita menemui yang mendapat beasiswa adalah orang – orang yang mampu. Saya dahulu bersekolah yang muridnya berasal dari golongan ekonomi beragam tapi kebanyakan menengah ke bawah. Saya hanya bersekolah di sekolah tersebut selama setahun saja. Di sana saya mempunyai teman – teman yang berpikiran entah bisa kuliah atau tidak. Pada saat saya pindah ke sekolah yang lebih baik, muridnya lebih berada dan rata – rata teman – teman saya yakin bisa kuliah. Yang menarik disini adalah mungkin kepandaian mereka sama tetapi kesempatan mereka memperoleh pendidikan berbeda karena keadaan ekonomi. Beasiswa menurut saya sama seperti lotre saja. Hanya 1 yang menang dari sekian banyak peserta.

Beberapa waktu lalu saya membaca di tempointeraktif.com sebuah artikel yang berjudul ” Prestasi Olimpiade Sains Int’ Hanya Kamuflase Belaka”. Hal ini sangat tepat menggambarkan kondisi di Indonesia saat ini. Para juara itu hanyalah beberapa anak cerdas tersebut sama sekali tidak dapat mewakili kondisi jutaan anak Indonesia lainnya. Menteri pendidikan tidak boleh berbangga diri dengan kemenangan putra – putri Indonesia karena pada kenyataannya pendidikan di Indonesia adalah salah satu yang terburuk di Wilaya Asia Tenggara. Bila hal ini dibiarkan terjadi maka bukan hal yang mustahil di masa yang akan datang Bangsa Indonesia yang katanya bangsa yang besar hanya jadi buruh di negerinya sendiri! Saya sendiri berpendapat nasib pendidikan di Indonesia bisa dianalogikan adalah seperti orang yang menggali kubur sendiri. Entah kapan tetapi pasti, tinggal tunggu waktu tertimbun tanahnya saja