Beberapa minggu yang lalu saya dan rekan – rekan mengunjungi pameran di sebuah “sekolah plus” di daerah Jakarta Barat. Sekolah tersebut memang “plus” karena para siswanya diajarkan Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris sejak mereka kecil. Bahkan ketika saya mendengar beberapa guru yang bercakap – cakap mereka juga menggunakan Bahasa Inggris. Yang menyedihkan, keadaan ini kontras sekali dengan anak – anak dari golongan bawah maupun pedesaan. Kesempatan mereka belajar minim sekali.
Di Republik Indonesia tercinta ini sepertinya pendidikan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki uang. Mereka yang kaya bisa memberikan pendidikan yang baik bagi anak – anaknya dan menyekolahkan mereka di sekolah terbaik dan universitas terkemuka atau bahkan ke luar negeri. Sementara bagi mereka yang kurang beruntung hanya bisa belajar seadanya. Begitu anak – anak mereka dewasa, kesempatan memperoleh pekerjaan pun menjadi semakin menjadikan perbedaan itu mencolok. Hampir setiap lowongan yang ada di koran maupun internet tertulis “graduated from reputable university” dan “overseas preferable”. Dari sini kita bisa melihat mengapa jurang kemiskinan di Indonesia ini semakin melebar setiap tahunnya.
Omong kosong dengan beasiswa! Tidak semua beasiswa jatuh ke tangan orang yang benar – benar membutuhkan. Seringkali kita menemui yang mendapat beasiswa adalah orang – orang yang mampu. Saya dahulu bersekolah yang muridnya berasal dari golongan ekonomi beragam tapi kebanyakan menengah ke bawah. Saya hanya bersekolah di sekolah tersebut selama setahun saja. Di sana saya mempunyai teman – teman yang berpikiran entah bisa kuliah atau tidak. Pada saat saya pindah ke sekolah yang lebih baik, muridnya lebih berada dan rata – rata teman – teman saya yakin bisa kuliah. Yang menarik disini adalah mungkin kepandaian mereka sama tetapi kesempatan mereka memperoleh pendidikan berbeda karena keadaan ekonomi. Beasiswa menurut saya sama seperti lotre saja. Hanya 1 yang menang dari sekian banyak peserta.
Beberapa waktu lalu saya membaca di tempointeraktif.com sebuah artikel yang berjudul ” Prestasi Olimpiade Sains Int’ Hanya Kamuflase Belaka”. Hal ini sangat tepat menggambarkan kondisi di Indonesia saat ini. Para juara itu hanyalah beberapa anak cerdas tersebut sama sekali tidak dapat mewakili kondisi jutaan anak Indonesia lainnya. Menteri pendidikan tidak boleh berbangga diri dengan kemenangan putra – putri Indonesia karena pada kenyataannya pendidikan di Indonesia adalah salah satu yang terburuk di Wilaya Asia Tenggara. Bila hal ini dibiarkan terjadi maka bukan hal yang mustahil di masa yang akan datang Bangsa Indonesia yang katanya bangsa yang besar hanya jadi buruh di negerinya sendiri! Saya sendiri berpendapat nasib pendidikan di Indonesia bisa dianalogikan adalah seperti orang yang menggali kubur sendiri. Entah kapan tetapi pasti, tinggal tunggu waktu tertimbun tanahnya saja
Sabtu, 22 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pak Sabur, klo bs kita jgn ikutan menggali kubur ya.... gmn klo kita jadi dokter yg bs menyembuhkannya ??!!
BalasHapus